PT Bukit Asam Tercatat Menurun di Paruh I/2025, Analis Prediksi Rebound di Semester II
Pena Insight
Jakarta, 13 Agustus 2025 – Kinerja keuangan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) pada semester pertama 2025 mencatat penurunan signifikan. Analis keuangan menurunkan rekomendasi saham PTBA dari “buy” menjadi “hold”, namun optimisme terhadap pemulihan di paruh kedua tahun ini masih terbuka lebar.
PTBA melaporkan laba bersih sebesar Rp833,04 miliar pada semester I/2025, merosot 59 % dari Rp2,03 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan pendapatan menjadi Rp20,45 triliun tidak mampu menutupi tekanan biaya yang meningkat tajam, termasuk biaya pokok pendapatan naik 12 %, beban umum & administrasi naik 9 %, serta biaya keuangan naik 14,9 %.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan dan Jeffronsenberg Chenlim, merevisi rekomendasi saham PTBA dari “buy” menjadi “hold”, dengan target harga baru dipangkas dari Rp3.500 menjadi Rp2.600 per saham dalam laporan tertanggal 5 Agustus 2025.
Tekanan ini turut dipicu oleh turunnya permintaan global dan ekspor batu bara Indonesia, termasuk ke China, seiring melemahnya kebutuhan dari industri smelter nikel. Ekspor batu bara Indonesia sepanjang paruh pertama 2025 menurun 12,6 % dari tahun lalu, sementara penurunan ekspor ke China mencapai 30 %.
Meskipun tantangan eksternal masih tinggi, beberapa sinyal optimis mulai muncul. Analis dari PT Ina Sekuritas menyebut bahwa secara teknikal, saham PTBA sedang menguji level support dan berpotensi rebound menuju kisaran Rp2.950–2.970, terutama jika harga batu bara menunjukkan penguatan.
Secara strategis, PTBA juga menyiapkan anggaran belanja modal (CAPEX) yang lebih besar. Untuk tahun 2025, perusahaan mengalokasikan Rp7,2 triliun, lebih dari tiga kali lipat dibanding realisasi tahun 2024, untuk mendukung infrastruktur logistik seperti koridor kereta Kramasan yang masuk dalam inisiatif “unlocking logistics”.
Langkah efisiensi operasional dan diversifikasi pasar tetap menjadi kunci. Sejak semester I, PTBA fokus memperluas pasar ekspor ke negara-negara seperti Vietnam, Thailand, Korea Selatan, dan Jepang, di tengah menurunnya permintaan dari China dan India.
Investor kini disarankan mengambil pendekatan yang lebih selektif. Meski target harga telah direvisi turun, kondisi saat ini dipandang sebagai kesempatan akumulasi jangka menengah hingga panjang, terutama jika harga batu bara global kembali menguat.
Faktor penentu selanjutnya adalah laporan keuangan kuartal III/2025 dan pergerakan harga acuan batu bara (HBA), yang akan menjadi barometer sentimen pasar dan arah harga saham PTBA ke depan.
Dengan kombinasi tekanan pasar dan momentum potensial rebound, pasar akan terus memantau bagaimana PTBA menavigasi tantangan dan peluang hingga akhir tahun.
Baca Juga
Komentar