PRABOWO “PANGKAS BRUTAL” 1.000 BUMN JADI 200: REVOLUSI EFISIENSI DAN UJIAN SERIUS BAGI EKONOMI NASIONAL
Jakarta — Langkah berani Presiden Prabowo Subianto memangkas jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari sekitar 1.000 entitas menjadi hanya 200–240 perusahaan strategis menandai babak baru reformasi ekonomi Indonesia.
Kebijakan ini bukan sekadar penyederhanaan struktur, tetapi sebuah “revolusi efisiensi” yang mengincar jantung kelemahan lama korporasi negara: birokrasi gemuk, politik patronase, dan rendahnya profitabilitas.
Dalam forum internasional Forbes Global CEO Conference 2025 di Jakarta, Prabowo menyampaikan arah kebijakan yang diyakini bakal mengubah wajah perekonomian nasional dalam lima tahun ke depan.
“Saya sudah memberikan arahan kepada pimpinan Danantara untuk melakukan rasionalisasi. Dari sekitar seribu BUMN, cukup dua ratusan saja yang efektif, efisien, dan berdaya saing global,” tegas Prabowo disambut tepuk tangan para eksekutif dunia.
Selama ini, rasio Return on Assets (RoA) BUMN Indonesia hanya berkisar 1–2 persen angka yang mencerminkan inefisiensi akut di tengah besarnya aset negara yang dikelola.
Dengan pemangkasan besar-besaran, Prabowo menargetkan RoA meningkat tajam hingga 5–6 persen, mendekati standar korporasi global.
Langkah rasionalisasi ini akan dipimpin Danantara Indonesia, lembaga superholding baru yang dibentuk untuk mengelola konsolidasi BUMN, termasuk melalui skema merger, divestasi, dan likuidasi bagi entitas yang tidak produktif.
Bagi Prabowo, restrukturisasi ini bukan hanya urusan efisiensi finansial, tetapi juga misi strategis nasional untuk menata ulang DNA ekonomi Indonesia.
“BUMN bukan alat politik. Mereka harus menjadi mesin ekonomi yang melayani rakyat, tapi juga menguntungkan negara. Kita tidak butuh banyak, kita butuh efektif,” ujarnya lantang.
Dalam forum yang sama, Prabowo menegaskan perubahan fundamental lainnya: membuka kesempatan bagi ekspatriat atau profesional asing memimpin BUMN.
“Saya sudah ubah aturannya. Sekarang ekspatriat bisa jadi CEO BUMN,” katanya, menandakan babak baru keterbukaan talenta global dalam sistem ekonomi negara.
Bagi sebagian kalangan, kebijakan ini dianggap revolusioner bahkan “brutal”. Sebab, selama puluhan tahun, BUMN bukan hanya institusi ekonomi, melainkan juga lahan politik dan patronase kekuasaan.
Pemangkasan hingga 80 persen entitas berarti mengubah keseimbangan kekuatan ekonomi yang selama ini tersebar di banyak tangan.
Namun bagi Prabowo, inilah harga yang harus dibayar untuk menciptakan efisiensi dan profesionalitas.
“Banyak pemimpin politik takut pada angka dan bisnis. Saya minta generasi muda belajar ekonomi, belajar data. Politik tanpa logika ekonomi adalah kemunduran,” sindirnya.
Konferensi Forbes Global CEO yang dihadiri ratusan eksekutif dunia menjadi panggung penting bagi Indonesia.
Prabowo memanfaatkan momentum ini untuk menegaskan bahwa Indonesia siap naik kelas menjadi pemain ekonomi utama di Asia, sejajar dengan Korea Selatan dan Singapura, lewat reformasi korporasi negara.
Analis pasar modal menilai, kebijakan ini akan memiliki efek domino pada pasar keuangan.
Penggabungan dan perampingan BUMN berpotensi mendorong peningkatan valuasi emiten pelat merah, sekaligus mengundang arus investasi asing baru yang selama ini menahan diri karena kompleksitas struktur BUMN.
Namun, di sisi lain, para pengamat ekonomi memperingatkan tantangan besar: resistensi birokrasi dan konflik kepentingan politik yang bisa memperlambat implementasi.
“Merampingkan seribu BUMN itu bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal membongkar sistem kekuasaan lama,” kata seorang analis senior pasar modal di Jakarta.
Prabowo tampaknya menyadari risiko itu. Karena itu, ia mendorong penerapan audit digital dan pengawasan berbasis AI untuk memastikan proses rasionalisasi berjalan transparan dan bebas intervensi.
“Kalau kita mau dunia percaya pada BUMN kita, tata kelolanya harus setransparan perusahaan publik global,” ujarnya.
Langkah ini juga menjadi sinyal penting bagi investor bahwa pemerintah tidak lagi mentoleransi BUMN yang “hidup dari subsidi”.
Setiap perusahaan negara harus memiliki arah bisnis yang jelas, efisiensi tinggi, dan pertanggungjawaban publik yang kuat.
Bagi Prabowo, reformasi ini bukan proyek lima tahun, melainkan pewarisan struktural (legacy) bagi masa depan ekonomi Indonesia.
Ia ingin meninggalkan warisan korporasi negara yang tangguh, sehat, dan siap bersaing secara internasional.
“Negara kuat karena institusinya efisien. Kalau BUMN sehat, ekonomi rakyat ikut naik,” pungkasnya.
Kini, semua mata tertuju pada Danantara dan tim reformasi BUMN. Dunia bisnis menunggu apakah langkah berani ini akan menjadi kisah sukses reformasi ekonomi terbesar pasca-Orde Baru atau justru menghadapi tembok tebal kepentingan yang gagal ditembus.
Yang pasti, satu hal jelas: Prabowo baru saja menyalakan mesin perubahan paling radikal dalam tubuh korporasi negara Indonesia.
Baca Juga
Komentar