PMI Manufaktur Indonesia Juli 2025, Masih Tertekan di Zona Kontraksi, Keyakinan Bisnis Terendah Sejak 2012
Pena Insight
JAKARTA 2 Agustus 2025 — Sektor manufaktur Indonesia masih belum keluar dari tekanan. Data terbaru dari S&P Global menunjukkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juli 2025 tercatat di angka 49,2, masih di bawah ambang batas ekspansi (50,0). Artinya, selama empat bulan berturut-turut, aktivitas manufaktur nasional masih berada di zona kontraksi.
Meski begitu, posisi PMI ini menunjukkan sedikit perbaikan dibanding bulan Juni lalu yang lebih rendah, yaitu 46,9. Namun, pemulihan ini belum cukup kuat untuk mengangkat sektor manufaktur ke wilayah ekspansi.
Laporan S&P Global menyebutkan sejumlah indikator utama masih menunjukkan pelemahan:
-
Produksi dan permintaan baru terus mengalami penurunan.
-
Permintaan ekspor tetap lesu, mencerminkan tekanan global dan pelemahan permintaan dari mitra dagang utama.
-
Penciptaan lapangan kerja dan aktivitas pembelian bahan baku masih stagnan atau menurun.
-
Keyakinan bisnis melemah dan kini berada di titik terendah sejak April 2012.
Analis menilai bahwa kombinasi dari ketidakpastian global, pelemahan daya beli domestik, serta hambatan distribusi logistik dan pasokan bahan mentah berperan besar terhadap perlambatan ini.
Sementara itu, pelaku industri berharap pada stimulus kebijakan fiskal maupun moneter dari pemerintah dan Bank Indonesia untuk menopang sektor riil, khususnya manufaktur, agar bisa bangkit dari tekanan berkepanjangan ini.
Baca Juga
Komentar