Menpora Kosong Sejak 8 September, Presiden Diminta Pilih Figur Profesional Olahraga
Jakarta, 13 September 2025 – Sejak dilengserkannya Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotejo pada Senin (8/9/2025), posisi strategis di dunia olahraga nasional hingga kini masih belum terisi. Dalam tiga hari terakhir, sejumlah nama dari kalangan muda ramai disebut sebagai kandidat pengganti, meski sebagian besar dinilai tidak memiliki rekam jejak kuat di bidang olahraga.
Presiden Prabowo Subianto menanggapi isu tersebut saat menghadiri peresmian SMAR-10 (Sekolah Menengah Atas Rakyat) di Jakarta Selatan, Kamis (11/9/2025). “Ya, nanti tunggu waktunya, ya biar kalian ada semangat,” ujarnya singkat ketika ditanya soal calon Menpora.
Nama-nama yang beredar memang berasal dari generasi muda, dengan latar belakang kepemudaan dan politik. Namun, tak satu pun yang benar-benar memiliki keterikatan mendalam dengan dunia olahraga. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran dari kalangan pengamat dan praktisi olahraga.
Sebagai catatan, Presiden Prabowo bukan orang asing dalam dunia olahraga nasional. Ia telah memimpin Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) selama 22 tahun, aktif dalam olahraga berkuda, serta pernah menjabat sebagai Ketua INKAI DKI Jakarta ketika masih berpangkat Kolonel. Pengalaman panjang itu dinilai membuat Prabowo memahami mekanisme pembinaan olahraga secara mendalam.
Dalam pandangan wartawan olahraga senior, Kemenpora memegang tanggung jawab utama terhadap pengembangan olahraga nasional. Meski isu kepemudaan diurus oleh setidaknya 17 kementerian, hanya Kemenpora yang mendapat mandat penuh di bidang olahraga sesuai UU Nomor 3 Tahun 2005 yang diperbarui menjadi UU Nomor 11 Tahun 2022.
Karena itu, penunjukan Menpora berikutnya diharapkan tidak hanya mempertimbangkan faktor usia muda, tetapi lebih kepada pengalaman dan profesionalisme di bidang olahraga. Menurut pengamat, jika Menpora terpilih tidak memiliki dasar keolahragaan, dikhawatirkan akan memperlambat kemajuan prestasi olahraga Indonesia.
Sejumlah figur senior dianggap masih relevan memimpin olahraga. Misalnya, Djoko Pramono yang kini berusia 82 tahun, sukses membawa cabang angkat besi menjadi langganan medali Olimpiade. Atau Pully Azwar, berusia 65 tahun, yang berhasil mengantar anak-anaknya menjadi juara dunia jetski.
Presiden Prabowo sendiri pernah menjadi saksi keberhasilan ketika pencak silat menyumbangkan 14 medali emas pada Asian Games di bawah kepemimpinannya di IPSI. Fakta ini menunjukkan usia tidak selalu menjadi hambatan dalam membangun prestasi olahraga.
Dengan pengalaman panjang di berbagai cabang olahraga, Prabowo diharapkan memilih Menpora dari kalangan praktisi yang sudah terbukti memiliki dedikasi. Calon ideal adalah mereka yang pernah berkarier sebagai atlet, pelatih, pengurus organisasi olahraga, atau analis yang berkontribusi langsung terhadap prestasi nasional.
Pengamat menilai, jika hanya mengandalkan figur politik muda tanpa rekam jejak olahraga, kebijakan kementerian bisa kehilangan arah. Padahal, momentum menuju berbagai ajang internasional seperti SEA Games dan Olimpiade membutuhkan strategi berkelanjutan.
Kehadiran Menpora yang memahami ekosistem olahraga juga penting untuk memperkuat koordinasi dengan cabang-cabang olahraga, KONI, dan induk federasi. Sinergi tersebut diyakini bisa menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran bagi pembinaan atlet nasional.
Selain itu, Menpora yang profesional juga harus mampu mengawal tata kelola anggaran secara transparan. Selama ini, pengelolaan dana olahraga kerap menjadi sorotan karena tidak sepenuhnya berorientasi pada prestasi.
Harapan besar kini tertuju pada Presiden Prabowo agar tidak terjebak pada wacana “usia muda” semata dalam memilih Menpora. Pengalaman dan rekam jejak di bidang olahraga dinilai lebih krusial untuk menjawab tantangan ke depan.
Penunjukan Menpora baru diharapkan segera dilakukan agar program kerja kementerian dapat berjalan efektif. Dengan begitu, dunia olahraga Indonesia tidak kehilangan momentum dalam mempersiapkan atlet menuju kejuaraan internasional mendatang.
Baca Juga
Komentar