Menperin Agus Dukung Langkah Menkeu Purbaya Berantas Mafia Tekstil dan Baja Nasional
YOGYAKARTA — Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkap bahwa pihaknya sudah sejak lama mencium adanya praktik mafia dalam industri tekstil dan baja di tanah air. Hal ini disampaikannya menanggapi rencana Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang akan menindak tegas para pelaku mafia tersebut.
“Kami sudah tahu sejak lama, kan sudah kami sampaikan sejak dulu soal mafia ini,” ujar Agus di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (24/10) sore.
Agus menilai langkah tegas dari Menkeu Purbaya patut diapresiasi. Menurutnya, komitmen untuk membersihkan praktik mafia yang menghambat industri nasional merupakan upaya penting bagi keberlangsungan sektor manufaktur dalam negeri.
“Pokoknya komitmen dari Pak Menteri Keuangan untuk membersihkan praktik-praktik yang membuat sulit industri itu pasti kami dukung,” katanya.
Politikus Partai Golkar tersebut menuturkan bahwa tekanan impor, baik legal maupun ilegal, selama ini menjadi salah satu masalah besar yang dihadapi pelaku industri manufaktur.
“Impor ada dua kalau kita bisa lihat. Impor yang ilegal ini masalah besar. Impor yang legal pun bisa jadi masalah besar karena masalah pricing,” jelasnya.
Agus mengingatkan bahwa masuknya produk impor dengan harga tidak wajar telah menekan daya saing industri lokal. Ia berharap langkah pemerintah dapat menutup celah tersebut dan memberikan ruang lebih bagi produk dalam negeri untuk tumbuh.
Menurut Agus, upaya pemberantasan mafia di sektor baja dan tekstil harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, tidak hanya berhenti pada penegakan hukum, tetapi juga pembenahan sistem tata niaga nasional.
“Jadi apa yang dilakukan Pak Menkeu dalam rangka memberantas mafia-mafia, baik itu baja maupun tekstil, tentu kami sambut dengan baik. Kami apresiasi langkah ini,” pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan adanya rencana penangkapan besar-besaran terhadap para mafia di sektor strategis nasional.
Rencana tersebut disampaikan Purbaya saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan pada Senin (20/10) lalu. Ia menyebut praktik penyelundupan dan manipulasi data ekspor-impor menjadi perhatian serius pemerintah.
Purbaya menuturkan, pihaknya telah mengantongi nama-nama pelaku yang diduga terlibat dalam praktik curang seperti under invoicing dan penyelundupan barang.
“Tinggal kita pilih saja siapa yang mau diproses. Intinya yang selama ini nyelundupin, terutama di tekstil, baja, segala macam. Sudah ada nama-namanya,” ujarnya.
Meski begitu, Purbaya belum menyebut secara pasti berapa kerugian negara yang ditimbulkan akibat praktik mafia tersebut.
“Belum tahu, masih kita hitung,” katanya singkat.
Selain fokus pada pemberantasan mafia di luar, Purbaya juga menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan pembersihan internal di Kementerian Keuangan.
Langkah tersebut menyasar para pegawai nakal di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang diduga terlibat dalam praktik penyimpangan.
Sebagai bentuk keterbukaan dan pengawasan publik, Kementerian Keuangan kini telah meluncurkan kanal pengaduan resmi melalui WhatsApp dengan nama “Lapor Pak Purbaya”.
Melalui kanal tersebut, masyarakat dapat menyampaikan berbagai laporan atau keluhan terkait layanan pajak dan bea cukai yang dinilai tidak sesuai aturan.
Agus berharap langkah sinergis antara Kementerian Keuangan dan Kementerian Perindustrian dapat memperkuat pondasi ekonomi nasional yang berkeadilan dan transparan.
Ia juga menegaskan pentingnya keberanian politik dalam menegakkan aturan agar praktik mafia di sektor industri benar-benar dapat dihapuskan.
“Kalau pemerintah solid dan tegas, saya yakin industri kita bisa tumbuh lebih sehat dan kuat,” tutup Menperin Agus.
Baca Juga
Komentar