Menkeu Purbaya Buka Suara Soal IHSG Anjlok: “Reaksi Berlebihan, Saatnya Time to Buy!”
Jakarta — Gejolak pasar saham nasional yang terjadi dalam beberapa hari terakhir memantik perhatian luas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan menyusul rilis laporan lembaga indeks global MSCI yang menyoroti aspek transparansi dan tata kelola pasar keuangan Indonesia. Situasi ini memicu kekhawatiran investor, sekaligus melahirkan berbagai spekulasi soal arah kebijakan ekonomi ke depan.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya akhirnya buka suara. Dalam wawancara dengan awak media pada sore kemarin, Purbaya menilai reaksi pasar terhadap laporan MSCI terbilang berlebihan. Ia memastikan pemerintah bersama otoritas terkait tengah bergerak cepat menuntaskan seluruh catatan yang disorot lembaga internasional tersebut.
“Saya pikir ini reaksi yang berlebihan. Ini baru laporan awal dan masih ada waktu eksekusi sampai bulan Mei. Saya sudah bicara dengan Ketua OJK, semuanya akan diberikan dan dibereskan sebelum tenggat itu,” ujar Purbaya.
Menurutnya, langkah perbaikan yang dilakukan akan memastikan perusahaan-perusahaan di Indonesia tetap memenuhi standar yang disyaratkan MSCI, sekaligus menjaga agar saham-saham nasional tetap layak menjadi tujuan investasi global. Ia optimistis isu ini bersifat sementara dan tidak mengubah fundamental ekonomi Indonesia yang dinilainya sedang berada di jalur positif.
Purbaya menegaskan bahwa saat ini pemerintah telah memperkuat sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia. Langkah ini dilakukan agar stabilitas ekonomi tetap terjaga di tengah fluktuasi pasar global.
“Sekarang kebijakan fiskal dan moneter sudah lebih sinkron. Investasi terus diperbaiki, fiskal uangnya tumbuh sesuai harapan, dan itu akan mendorong ekonomi bergerak lebih cepat,” jelasnya.
Ia bahkan menyampaikan keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berpotensi mencapai angka yang lebih tinggi dari proyeksi awal, seiring berbagai reformasi yang tengah dijalankan di sektor keuangan, perpajakan, serta iklim investasi.
Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bagi pelaku pasar bahwa tekanan IHSG saat ini tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional. Purbaya menilai, justru momentum koreksi pasar dapat menjadi peluang bagi investor.
“Kalau saham turun karena isu ini, dan kita tahu akan diperbaiki dalam waktu dekat sebelum Mei, ya harusnya sekarang ini time to buy,” katanya.
Selain merespons isu pasar saham, Purbaya juga mengumumkan langkah tegas di internal kementerian yang dipimpinnya. Ia memastikan akan melakukan rotasi besar-besaran terhadap pejabat Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea Cukai dalam waktu dekat.
“Habis ini saya akan lantik sekitar 334 pejabat baru di cukai. Saya putar, saya rotasi. Yang tidak perform, saya geser ke pinggir. Kita ingin semangat baru, bekerja lebih baik dari sebelumnya,” tegas Purbaya.
Menurutnya, perombakan ini dilakukan untuk memperkuat kinerja pengumpulan penerimaan negara tanpa harus menaikkan tarif pajak maupun cukai. Fokus utamanya adalah memperbaiki sistem, meningkatkan integritas aparat, dan menutup celah kebocoran penerimaan.
Ia menegaskan tidak segan menindak jajaran yang dinilai tidak sejalan dengan agenda reformasi. “Kalau cuma bicara tidak akan gerak. Sekarang saya shock besar-besaran, supaya organisasi bergerak,” ujarnya.
Langkah ini sekaligus menjawab sorotan publik terkait isu transparansi dan tata kelola lembaga keuangan negara. Purbaya menegaskan bahwa pemerintah serius melakukan pembenahan, bukan hanya di atas kertas.
Purbaya juga menyinggung persoalan praktik manipulasi pasar atau “penggorengan saham” yang selama ini kerap dikeluhkan investor. Ia menyatakan bahwa arah kebijakan pembenahan pasar modal kini fokus pada penindakan terhadap praktik tersebut.
“Kalau dulu saya bilang ke bursa, minta insentif, saya bilang perbaiki pasar saham dari ulah para penggoreng saham. Arahnya ke situ. Sekarang OJK sudah menyatakan akan membereskan semua yang disebutkan MSCI sebelum Mei,” jelasnya.
Menurutnya, pembenahan ini akan membuka peluang bagi pasar saham Indonesia untuk naik kelas, lebih kredibel, dan kembali menarik investor institusi global.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada stabilitas jangka pendek, tetapi juga mempersiapkan fondasi ekonomi jangka panjang. Ia menyebut akan mendorong seluruh kementerian dan lembaga agar belanja negara tepat waktu dan tepat sasaran, serta mempercepat perbaikan iklim investasi.
“Kita akan buka hambatan-hambatan antara kementerian, antara pemerintah dan dunia usaha. Bukan hanya di atas kertas, tapi betul-betul di lapangan,” ujarnya.
Ia juga mengungkap bahwa ke depan akan ada sejumlah kasus besar terkait penegakan aturan ekonomi yang dituntaskan sebagai bukti keseriusan pemerintah dalam reformasi struktural.
“Indonesia serius memperbaiki. Bukan janji, tapi langkah nyata,” kata Purbaya.
Pernyataan Menkeu Purbaya ini menjadi sinyal kuat bagi pasar keuangan bahwa pemerintah menyadari situasi yang terjadi dan telah menyiapkan langkah korektif. Dengan tenggat waktu perbaikan hingga Mei, pelaku pasar kini menanti implementasi konkret dari janji reformasi yang disampaikan.
Bagi investor, sinyal “time to buy” dari Menteri Keuangan tentu menjadi pernyataan yang tidak biasa, sekaligus menegaskan keyakinan pemerintah terhadap fundamental ekonomi nasional.
Di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian, langkah cepat pembenahan pasar, reformasi perpajakan dan cukai, serta sinergi kebijakan fiskal-moneter diharapkan menjadi jangkar stabilitas bagi ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga
Komentar