Langkah Anggelia Meryciana Menuju Puteri Indonesia 2026 Bawa Misi Literasi hingga Desa Saham
Pontianak — Perjalanan menuju panggung nasional tidak selalu mulus. Anggelia Meryciana, Puteri Indonesia Kalimantan Barat 2026, memilih membagikan kisah jatuh bangun dan proses panjangnya saat hadir dalam Program Special Segment RRI Pro 2 Pontianak, Kamis, 4 Februari 2026. Di Studio Pro 2, Angel—sapaan akrabnya—tidak hanya berbicara tentang persiapan teknis menuju ajang Puteri Indonesia tingkat nasional pada April mendatang, tetapi juga tentang makna perjuangan, konsistensi, dan misi sosial yang ia emban untuk daerah.
“Motivasi ikut pageant ini adalah mimpi dari kecil,” ujarnya dalam siaran tersebut.
Pernyataan itu terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan proses bertahun-tahun. Angel mengungkapkan bahwa persiapan menuju Puteri Indonesia 2026 telah ia lakukan selama kurang lebih dua tahun. Ia bukan nama baru dalam kompetisi ini. Pada 2021, ia sempat menembus jajaran Top 5 di tingkat provinsi. Namun, setelah pencapaian tersebut, keraguan sempat muncul.
Ia mengaku sempat mempertanyakan apakah akan kembali berkompetisi atau tidak. Dunia pageant menuntut kesiapan mental, fisik, serta komitmen waktu yang tidak sedikit. Namun, dukungan keluarga, tim, dan orang-orang terdekat menjadi faktor penentu yang menguatkan langkahnya.
“Proses panjang ini justru membentuk kesiapan mental dan kemampuan diri saya,” katanya.
Dua Tahun Persiapan, Bangun Mental dan Kapasitas
Angel menilai bahwa mengikuti ajang sebesar Puteri Indonesia bukan hanya soal tampil di panggung. Ia mempersiapkan diri melalui penguatan public speaking, pendalaman isu sosial, peningkatan literasi, hingga pengembangan proyek sosial yang berkelanjutan.
Dalam perbincangan di RRI, ia menegaskan bahwa konsep utama Puteri Indonesia adalah 3B: Brain, Beauty, dan Behaviour. Menurutnya, kecantikan hanyalah elemen pendukung.
“Yang paling utama itu kualitas diri dari dalam—wawasan, sikap, dan kepribadian. Itu fondasi untuk menjalankan peran sebagai Puteri Indonesia,” jelasnya.
Konsep 3B selama ini menjadi standar penilaian dalam ajang tersebut, yang menempatkan intelektualitas dan karakter sebagai aspek krusial. Angel menilai, di era digital dan keterbukaan informasi saat ini, seorang finalis dituntut memiliki pemahaman isu yang komprehensif serta kemampuan komunikasi yang kuat.
Berawal dari Dara Gawai Dayak 2016
Perjalanan Angel di dunia pageant dimulai sejak 2016 ketika ia mengikuti ajang Dara Gawai Dayak. Saat itu, ia terpilih sebagai Dara Gawai Berbakat. Pengalaman tersebut menjadi titik awal keterlibatannya dalam berbagai kegiatan pengembangan diri dan aktivitas sosial di Kalimantan Barat.
Sejak saat itu, ia aktif membangun kapasitas diri melalui organisasi, kegiatan budaya, serta program pemberdayaan masyarakat. Ia memegang prinsip hidup yang selalu ia ulang dalam setiap proses: Effort + Response = Outcome.
“Apapun yang mau dikerjakan memang harus ada effort-nya. Respons dari tim dan orang sekitar juga berpengaruh. Kalau responsnya positif, hasilnya akan positif juga,” ujarnya.
Menurut Angel, prinsip tersebut membantunya menjaga konsistensi, terutama ketika menghadapi tekanan atau ekspektasi publik. Ia menyadari bahwa keberhasilan bukan hasil kerja individu semata, melainkan kolaborasi dengan tim, mentor, dan lingkungan yang suportif.
Proses Seleksi yang Ketat
Dalam kesempatan itu, Angel juga menjelaskan tahapan seleksi Puteri Indonesia yang cukup komprehensif. Proses diawali dengan audisi offline berupa sesi wawancara untuk menggali latar belakang peserta, visi, serta pemahaman isu. Penilaian catwalk juga menjadi bagian penting untuk melihat teknik dan kepercayaan diri peserta.
Setelah lolos tahap awal, finalis akan mengikuti masa karantina. Di fase ini, peserta mendapatkan pembekalan materi dari sponsor, pelatihan kepribadian, serta pendalaman isu nasional. Terdapat pula malam bakat dan depth interview bersama Yayasan Puteri Indonesia pusat yang menjadi salah satu penentu hasil akhir.
Angel menilai tahapan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan proses pembentukan karakter dan kepemimpinan. “Semua tahap itu menguji konsistensi dan kesiapan kita sebagai representasi daerah,” katanya.
Bawa Proyek “Kampokng Saham”
Dalam ajang nasional nanti, Angel membawa proyek sosial bertajuk “Kampokng Saham”. Program ini berfokus pada promosi literasi pariwisata Desa Saham di Kabupaten Landak melalui kampanye media sosial.
Sejak 2021, ia bersama tim telah mengembangkan konten digital untuk memperkenalkan potensi budaya dan wisata desa tersebut. Angel melihat bahwa promosi berbasis literasi digital dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
“Kami ingin mengangkat Desa Saham agar lebih dikenal luas, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang potensi wisata berbasis budaya,” ujarnya.
Ia menilai generasi muda memiliki peran strategis dalam mendukung promosi daerah melalui platform digital. Dengan pendekatan yang tepat, media sosial tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan pemberdayaan.
Pesan untuk Generasi Z dan Visi 2045
Menutup perbincangan di RRI Pro 2 Pontianak, Angel menyampaikan pesan khusus bagi generasi muda, khususnya Gen Z. Ia menekankan pentingnya ketulusan dan kesungguhan dalam setiap proses.
“Kerjakan dari hati, tulus, ikhlas, dan dipersiapkan dengan baik. Kalau dikerjakan setengah-setengah, hasilnya pun akan setengah juga. Apapun yang mau dilakukan, lakukan yang terbaik,” pesannya.
Selain itu, ia mengajak generasi muda untuk meningkatkan literasi sebagai bagian dari persiapan menyongsong generasi emas 2045. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia akan menjadi penentu daya saing Indonesia di masa depan.
Angel menyadari bahwa tanggung jawab sebagai Puteri Indonesia Kalimantan Barat bukan hanya soal kompetisi, melainkan representasi nilai, budaya, dan aspirasi daerah. Dengan pengalaman, prinsip hidup yang kuat, serta dukungan lingkungan, ia optimistis dapat memberikan performa terbaik di panggung nasional pada April mendatang.
Bagi Angel, perjalanan ini bukan sekadar tentang mahkota, melainkan tentang proses membangun diri dan membawa dampak nyata bagi masyarakat. Kalimantan Barat kini menaruh harapan pada langkahnya—langkah yang lahir dari mimpi masa kecil, ditempa oleh keraguan, dan dikuatkan oleh konsistensi.
Baca Juga
Komentar