Kunjungan Wawali Harris ke Wahdi Center: Bangun Sinergi Umaro-Ulama untuk Kota Bekasi yang Toleran dan Sejahtera
Kota Bekasi — Dalam upaya memperkuat hubungan antara pemerintah dan tokoh agama, Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe melakukan kunjungan silaturahmi ke Wahdi Center, Jati Makmur, Pondokgede. Pertemuan ini menjadi momen penting dalam membangun sinergi antara umaro (pemerintah) dan ulama demi terwujudnya Kota Bekasi yang harmonis, toleran, dan sejahtera.
Kedatangan Wawali Harris disambut hangat oleh KH Wahyudi selaku tuan rumah, beserta jajaran pengurus Wahdi Center. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban, dengan dialog terbuka dan tawa ringan yang mencerminkan semangat kebersamaan.
Dalam sambutannya, Harris Bobihoe menyampaikan rasa syukur dapat bersilaturahmi dengan para tokoh agama di tengah suasana yang penuh keberkahan. Ia menekankan pentingnya mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan kalangan ulama sebagai fondasi membangun masyarakat yang rukun dan kuat.
“Alhamdulillah bisa hadir di hari yang penuh berkah serta cucuran rahmat dari Allah SWT. Kita bersilaturahmi, mempererat hubungan antara umaro dan ulama. Membangun sinergitas untuk bersama mewujudkan Kota Bekasi keren, yang nyaman kotanya serta menjadikan warganya semakin sejahtera,” ujar Wawali Harris Bobihoe.
Silaturahmi ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk mendiskusikan berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat Kota Bekasi. Dengan karakter kota yang sangat heterogen, menurut Harris, diperlukan sinergi yang kuat agar nilai-nilai toleransi dan kerukunan terus terjaga.

Harris mengingatkan bahwa Kota Bekasi merupakan miniatur Indonesia, di mana keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi kekayaan sosial yang harus dikelola dengan bijak. Ia menilai, hubungan antarwarga yang harmonis akan memperkuat ketahanan sosial dan mempercepat pembangunan daerah.
“Kota Bekasi merupakan kota heterogen, terdiri dari beragam ras, suku, dan agama. Ini adalah kesempatan untuk mempererat silaturahmi, bukan hanya sesama umat Islam saja, tetapi juga dengan mereka yang berbeda agama, agar tercipta hubungan yang harmonis,” jelas Harris.
Dalam konteks kebijakan publik, pemerintah Kota Bekasi juga berkomitmen memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada seluruh pemeluk agama. Upaya ini bertujuan menjaga iklim toleransi, serta menekan potensi gesekan sosial yang dapat mengganggu stabilitas kota.
Silaturahmi dengan para ulama dipandang sebagai salah satu pilar penting dalam mendukung agenda tersebut. Ulama memiliki peran strategis sebagai tokoh moral dan panutan masyarakat, sementara pemerintah memiliki kewenangan eksekutif untuk menerapkan kebijakan yang inklusif.
Harris menegaskan, kolaborasi keduanya harus terus diperkuat. Dalam banyak kasus, keberhasilan menjaga kerukunan berawal dari komunikasi intensif antara aparat pemerintah dan tokoh agama setempat.
Selain menekankan aspek sosial, Harris juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga lingkungan agar tetap aman dan nyaman. Ia menilai, tanpa kesadaran kolektif dari warga, kebijakan pemerintah dan seruan moral para ulama tidak akan optimal.
“Agar terwujudnya lingkungan yang aman dan nyaman, perlu kesadaran tinggi untuk saling guyub, tidak membeda-bedakan, menjunjung tinggi toleransi. Maka penting bagi kita semua untuk mempererat silaturahmi sehingga dapat terbina hubungan yang baik tanpa perselisihan,” tutup Harris.
Kunjungan ini juga menjadi momentum memperkuat citra Pemerintah Kota Bekasi sebagai pemerintahan yang terbuka terhadap aspirasi masyarakat dan tokoh agama. Dengan dialog terbuka, pemerintah dapat menerima masukan langsung untuk penyempurnaan kebijakan publik.
Di sisi lain, Wahdi Center sebagai lembaga keagamaan lokal berperan aktif dalam pembinaan umat dan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Melalui kegiatan keagamaan dan sosial, Wahdi Center turut mendukung terciptanya lingkungan masyarakat yang harmonis.
Secara lebih luas, sinergi ini juga diharapkan dapat mempercepat pencapaian visi “Bekasi Keren” yang menekankan pada kenyamanan kota dan kesejahteraan warga. Kolaborasi antara umaro dan ulama menjadi salah satu strategi kunci dalam mewujudkan visi tersebut secara berkelanjutan.
Kota Bekasi yang tumbuh pesat menghadapi tantangan urbanisasi, ketimpangan sosial, dan keragaman demografis. Oleh karena itu, kepemimpinan daerah perlu melibatkan semua elemen masyarakat, terutama tokoh agama, dalam menjaga kohesi sosial.
Kunjungan silaturahmi seperti ini menjadi contoh nyata pendekatan soft diplomacy lokal, di mana nilai keagamaan, sosial, dan kebijakan publik bertemu dalam ruang dialog yang konstruktif. Pendekatan ini relevan untuk memperkuat stabilitas kota di tengah dinamika masyarakat modern.
Pada akhir kegiatan, Wawali Harris juga melakukan ziarah bersama rombongan, sebagai bentuk penghormatan terhadap para pendiri dan tokoh masyarakat yang telah berjasa bagi Kota Bekasi. Tradisi ini menjadi penanda kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan kota.
Silaturahmi antara pemerintah dan tokoh agama seperti ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi agenda berkelanjutan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dengan demikian, Kota Bekasi dapat menjadi contoh nyata kota toleran yang berkembang secara inklusif.
Baca Juga
Komentar