Ketua TP PKK Kota Bekasi Meninjau Kegiatan MPLS ke Sejumlah Sekolah
Pena Insight
Bekasi, 14 Juli 2025 – Wiwiek Hargono Sentil Soal Gadget, Bullying, dan Motivasi Siswa di Hari Pertama Sekolah
Ketua TP PKK Kota Bekasi, Wiwiek Hargono Tri Adhianto, melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah dasar dan menengah pada hari pertama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (14/7/2025). Kunjungan ini dilakukan untuk memberikan semangat langsung kepada siswa dan menyapa para orang tua yang mengantar anaknya.
Sekolah yang dikunjungi antara lain SD Bojong Rawalumbu 1 dan SMPN 33 Kota Bekasi. Dalam suasana hangat dan penuh antusiasme, Wiwiek menyampaikan pentingnya motivasi internal bagi siswa sejak hari pertama mereka menapaki jenjang pendidikan baru. "Fokus untuk belajar, fokus ke impian. Tanamkan niat setiap pagi," ucapnya di depan para murid.
Namun, di balik pesan moral tersebut, Wiwiek juga menyinggung isu yang semakin mendesak di lingkungan pendidikan: penggunaan gadget secara berlebihan dan maraknya perundungan. Ia meminta guru dan tenaga pendidik meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas murid, terutama di ruang digital dan interaksi sosial.
Pernyataan ini mencerminkan keprihatinan yang mendalam, namun juga membuka ruang kritik. Banyak sekolah belum memiliki sistem kontrol gadget yang efektif, apalagi di jenjang dasar dan menengah. Padahal, tanpa kebijakan konkret dari pemerintah daerah, imbauan moral bisa dengan mudah menguap di tengah derasnya pengaruh media sosial.

Isu bullying juga tak kalah penting. Pernyataan Wiwiek soal membangun lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang menjadi pengingat bahwa tindakan perundungan masih menjadi momok serius di sekolah-sekolah. Namun demikian, upaya preventif sering kali hanya bersifat seremonial tanpa disertai pendekatan sistemik, seperti konseling wajib atau pelatihan empati bagi guru.
Kegiatan MPLS idealnya menjadi panggung pembentukan karakter, bukan hanya rutinitas kenalan antar siswa. Kunjungan TP PKK memang memberi pesan simbolik positif, tapi seharusnya juga dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi kesiapan sekolah dalam menghadapi tantangan pendidikan masa kini—baik dari sisi infrastruktur, kurikulum, hingga psikologi anak.
Kritik terhadap sistem MPLS selama ini salah satunya adalah pendekatannya yang terlalu normatif. Belum banyak sekolah yang memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan kesadaran digital, manajemen emosi, atau teknik komunikasi sehat. Padahal, justru di sinilah fondasi hubungan sosial dan etika siswa dibangun.
Apresiasi terhadap orang tua yang mengantar anak juga patut dicatat. Namun, pemerintah perlu melampaui simbolisasi ini dengan kebijakan konkret seperti program parenting digital, pelibatan orang tua dalam kegiatan sekolah, dan peningkatan kapasitas guru dalam berkomunikasi lintas generasi.
Langkah Wiwiek Hargono bisa menjadi awal yang baik jika diikuti dengan evaluasi dan kebijakan lanjutan. Sebab, tantangan pendidikan hari ini tidak cukup diselesaikan dengan kunjungan dan motivasi, tapi perlu pendekatan terintegrasi antara keluarga, sekolah, dan kebijakan publik yang relevan.
Baca Juga
Komentar