Ketika Negara Tak Tutup Mata Aksi Kemanusiaan Polres Priok Pulangkan Warga Tak Mampu
Pena Insight
Jakarta, 28 Juli 2025 — Di tengah hiruk-pikuk ibukota dan dinginnya realitas sosial ekonomi yang menghantam kelompok rentan, seberkas harapan muncul dari Terminal Pelni Nusantara Pura II, Pelabuhan Tanjung Priok. Seorang pria bernama Solihin, warga Pontianak yang terlantar tanpa biaya pulang, akhirnya bisa kembali ke kampung halamannya berkat kepedulian dan aksi cepat jajaran Polres Pelabuhan Tanjung Priok dan Dinas Sosial Jakarta Utara. Tindakan ini bukan hanya sekadar pertolongan satu individu, melainkan refleksi dari wajah negara yang masih memiliki hati nurani.
Kisah bermula ketika Solihin, dalam keadaan bingung dan tak berdaya, duduk di area pelabuhan, tak tahu harus melangkah ke mana. Di tengah keramaian, ia ditemui oleh PS. Bhabinkamtibmas Satbinmas, AIPTU Agus Subekti, yang memilih untuk peduli dan bertanya. Bukan interogasi, melainkan empati yang mengawali penyelamatan ini. Ketika Solihin menjelaskan bahwa ia ingin pulang ke Pontianak tetapi tidak memiliki uang, AIPTU Agus langsung mengambil tindakan.
AIPTU Agus membawa Solihin ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Pelabuhan Tanjung Priok untuk mencarikan solusi. Dari sini, langkah konkret diambil. Kepolisian berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Jakarta Utara dan bersama-sama memfasilitasi kepulangan Solihin menggunakan kapal laut. Dalam waktu singkat, bantuan bukan hanya dijanjikan, tetapi diwujudkan.
Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, AKBP Dr. Martuasah H. Tobing, menegaskan bahwa tindakan ini bukan insidental, melainkan bagian dari mandat moral institusi kepolisian. “Kami tidak hanya bicara soal hukum dan keamanan, tapi juga nilai kemanusiaan. Polri akan selalu hadir untuk rakyat yang sedang kesulitan,” ujarnya.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana sinergi antara institusi keamanan dan layanan sosial bisa menghasilkan solusi nyata. Tanpa birokrasi berbelit, tanpa syarat berlebihan. Ketika koordinasi dijalankan dengan semangat pelayanan, warga yang terpinggirkan bisa kembali merasakan kehadiran negara secara langsung dan bermartabat.
Aksi ini juga menjadi jawaban atas keraguan publik terhadap empati aparatur negara. Di tengah krisis kepercayaan terhadap institusi, tindakan cepat, solutif, dan humanis seperti ini menjadi penting untuk merestorasi kepercayaan rakyat. Negara tidak hadir hanya lewat kebijakan makro, tetapi melalui langkah kecil yang menyentuh langsung kehidupan rakyat.
Lebih dari itu, keberpihakan terhadap warga yang tidak mampu harus dijadikan standar, bukan pengecualian. Tindakan AIPTU Agus dan rekan-rekannya adalah contoh konkret dari implementasi nilai-nilai Tribrata Polri yang sering kali hanya berhenti di dokumen. Ketika diterapkan, hasilnya adalah manusia yang kembali tersenyum dan kembali memiliki arah hidup.
Editorial ini mengajak agar kisah Solihin tidak berhenti sebagai narasi heroik sesaat. Ia harus menjadi inspirasi kebijakan—bahwa urusan kemanusiaan harus menjadi prioritas setiap lini pemerintahan. Tak ada yang terlalu kecil untuk dibantu, tak ada yang terlalu sederhana untuk diselamatkan.
Di Pelabuhan Tanjung Priok, satu orang telah dipulangkan. Tapi sesungguhnya, yang lebih besar dari itu adalah kepulangan rasa kepercayaan masyarakat kepada negara. Ketika aparat memilih untuk peduli, negara benar-benar hidup di tengah rakyatnya.
Baca Juga
Komentar