Kapolda Aceh Turun Langsung ke Ketambe: 300 Kasur, Dana Hunian, dan Pesan Kuat Negara Hadir untuk Korban Banjir Bandang
Kutacane — Di tengah puing-puing rumah yang tersisa dan tanah basah yang masih menyimpan jejak amukan banjir bandang, sebuah pemandangan mengundang haru terjadi di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. Selasa, 20 Januari 2026, Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah datang langsung menemui warga korban bencana, membawa bantuan kemanusiaan sekaligus pesan kuat: negara tidak tinggal diam.
Kunjungan itu bukan sekadar agenda seremonial. Kapolda Aceh menempuh perjalanan menuju wilayah terdampak banjir bandang yang pada akhir November 2025 lalu meluluhlantakkan puluhan rumah dan memaksa ratusan warga kehilangan tempat tinggal. Kali ini, ia datang dengan membawa 300 unit kasur tidur, paket sembako, serta Dana Tunggu Hunian (DTH) untuk para korban yang rumahnya hanyut.
Ratusan kasur tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Polda Aceh bersama Yayasan PT Mapanbumi, Paramitha Foundation, serta Yayasan HOPE. Bantuan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan paling mendesak para korban yang hingga kini masih bertahan di hunian sementara, posko pengungsian, atau menumpang di rumah kerabat.
Tak hanya itu, Kapolda Aceh juga menyerahkan secara simbolis Dana Tunggu Hunian sebesar Rp1,8 juta per keluarga untuk jangka waktu tiga bulan. Dana ini diharapkan dapat membantu para korban memenuhi kebutuhan dasar sambil menunggu proses pembangunan kembali hunian permanen dari pemerintah daerah dan instansi terkait.
“Bantuan ini adalah wujud kepedulian kami. Kami ingin memastikan saudara-saudara kita yang terdampak banjir bandang tidak merasa sendirian. Negara hadir bersama mereka,” ujar Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah di sela kunjungannya.
Kehadiran Kapolda Aceh disambut hangat oleh warga Ketambe. Beberapa korban terlihat tak kuasa menahan emosi saat menerima kasur dan bantuan secara langsung dari tangan jenderal bintang dua tersebut. Bagi mereka, perhatian dari pimpinan kepolisian di tingkat provinsi menjadi penguat moral setelah kehilangan harta benda akibat bencana alam.
Dalam kunjungan itu, Marzuki tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan para korban. Ia menyapa satu per satu warga, mendengarkan cerita mereka tentang malam ketika banjir bandang datang tiba-tiba, menghanyutkan rumah, ternak, serta perabotan dalam hitungan menit.
Abituren Akabri 1991 itu juga menanyakan kebutuhan paling mendesak yang masih diperlukan warga, terutama menjelang bulan suci Ramadan yang akan datang pada Februari 2026. Bagi masyarakat Aceh, Ramadan memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat. Karena itu, memastikan para korban dapat menyambut bulan suci dengan kondisi layak menjadi perhatian khusus.
“Saya bersama pejabat utama Polda Aceh, didampingi Kapolres Aceh Tenggara dan unsur Forkopimda, datang langsung untuk mengantar bantuan ini. Sekaligus ingin mendengar langsung apa saja kebutuhan mendesak masyarakat, apalagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadan,” kata Marzuki.
Ia menegaskan, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat semata. Dukungan berkelanjutan tetap diperlukan hingga warga benar-benar pulih dan dapat kembali menjalani kehidupan secara normal. Karena itu, Kapolda Aceh mengajak seluruh pihak — pemerintah daerah, lembaga sosial, dunia usaha, dan masyarakat luas — untuk terus memberikan perhatian kepada para korban.
“Kebersamaan adalah kunci. Saya mengajak semua pihak untuk bersama-sama mendukung saudara-saudara kita di Ketambe. Mereka butuh perhatian, bukan hanya hari ini, tapi sampai kondisi benar-benar pulih,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kapolda Aceh juga menyampaikan apresiasi kepada Kapolres Aceh Tenggara AKBP Yulhendri, unsur Forkopimda, relawan, serta seluruh elemen masyarakat yang terlibat aktif dalam penanganan bencana banjir bandang pada 27 November 2025 lalu. Ia menilai sinergi yang terbangun selama masa tanggap darurat menjadi faktor utama keberhasilan pengendalian situasi pascabencana.
Menurut Marzuki, Kabupaten Aceh Tenggara bahkan tercatat sebagai daerah pertama di Aceh yang berhasil menurunkan status dari tanggap darurat bencana ke tahap pemulihan pascabencana. Capaian ini tidak lepas dari koordinasi lintas sektor yang solid, mulai dari aparat keamanan, pemerintah daerah, tenaga medis, hingga relawan kemanusiaan.
“Ini patut diapresiasi. Kekompakan semua pihak di Aceh Tenggara luar biasa. Penanganan bencana berjalan cepat, tertib, dan terkoordinasi. Ini contoh baik bagi daerah lain,” kata Marzuki.
Ia juga menyinggung nilai lokal yang selama ini menjadi karakter masyarakat Aceh Tenggara, yakni moto “sepakat segenep”. Semangat persatuan dan kebersamaan tersebut, menurutnya, terlihat jelas selama proses evakuasi, distribusi bantuan, hingga pemulihan pascabencana.
“Kekompakan masyarakat Aceh Tenggara sejalan dengan moto sepakat segenep. Inilah kekuatan sosial yang membuat daerah ini mampu bangkit lebih cepat dari bencana,” ujarnya.
Di sisi lain, warga Ketambe berharap bantuan yang diberikan hari ini menjadi awal dari percepatan pembangunan hunian tetap bagi para korban. Sebagian besar rumah yang hanyut belum dapat dibangun kembali karena masih menunggu program rekonstruksi dari pemerintah. Dana Tunggu Hunian yang disalurkan diharapkan menjadi bantalan ekonomi sementara agar para korban tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup dasar.
Kunjungan Kapolda Aceh pun menutup hari itu dengan harapan baru. Di tengah keterbatasan dan luka pascabencana, kehadiran langsung pimpinan kepolisian beserta bantuan konkret yang dibawa menjadi simbol bahwa solidaritas masih hidup, dan pemulihan bukan sekadar janji.
Bagi warga Ketambe, 300 kasur bukan hanya alas tidur. Ia menjadi tanda bahwa mereka tidak dilupakan. Dan Dana Tunggu Hunian bukan sekadar angka, melainkan nafas sementara untuk bertahan hingga rumah kembali berdiri.
Di Aceh Tenggara, semangat sepakat segenep kembali diuji. Dan seperti yang ditunjukkan hari itu, kebersamaan menjadi pondasi utama untuk bangkit dari bencana.
Baca Juga
Komentar