Jakarta Lumpuh Diterjang Banjir, 128 Ribu Personel Polri Nasional Dikerahkan: Ujian Nyata Kesiapsiagaan Negara
Jakarta - Hujan deras yang mengguyur DKI Jakarta sejak Rabu malam hingga Kamis (22/1/2026) kembali menguji daya tahan ibu kota. Sejumlah ruas jalan utama terendam banjir, melumpuhkan mobilitas warga dan memaksa negara hadir cepat di ruang publik. Polda Metro Jaya langsung mengerahkan pasukan gabungan Brimob, Lalu Lintas, dan Polair untuk mengamankan wilayah terdampak, mengevakuasi warga, serta menjaga arus transportasi tetap bergerak di tengah kondisi darurat.
Titik-titik krusial yang terendam, seperti Jalan Letjen Suprapto Cempaka Putih dan kawasan Kampung Melayu Jakarta Timur, menjadi prioritas operasi lapangan. Personel kepolisian terlihat membantu warga menyeberang genangan, mengevakuasi kendaraan mogok, hingga memastikan akses menuju fasilitas kesehatan tetap terbuka. Kehadiran aparat tidak hanya bersifat pengamanan, tetapi juga misi kemanusiaan langsung di tengah krisis.
Brimob disiagakan sebagai unsur reaksi cepat untuk evakuasi dan pengamanan kawasan rawan, sementara Direktorat Lalu Lintas menjalankan rekayasa arus kendaraan guna mencegah kemacetan total. Di sisi lain, Polair diterjunkan di area genangan tinggi dan bantaran sungai untuk membantu mobilisasi perahu evakuasi. Seluruh unsur bergerak dalam satu komando terpadu, menandai pola respons bencana yang semakin terstruktur.
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menegaskan bahwa respons cepat di Jakarta merupakan bagian dari kesiapsiagaan nasional menghadapi bencana hidrometeorologi. Ia menyebut Polri menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama, sekaligus memastikan negara hadir di saat publik paling membutuhkan perlindungan.
“Personel di Jakarta bergerak cepat untuk pengamanan, evakuasi, dan pengaturan lalu lintas. Secara nasional, Polri bersama TNI dan unsur terkait menyiagakan kekuatan penuh demi memastikan keselamatan masyarakat dan percepatan penanganan dampak bencana,” ujar Trunoyudo dalam keterangan resmi.
Skala operasi kali ini tidak hanya terpusat di ibu kota. Secara nasional, Polri bersama TNI dan instansi lain menyiagakan 128.247 personel gabungan. Rinciannya mencakup 71.012 personel Polri, 13.291 personel TNI, 8.290 personel BPBD, 4.022 personel Basarnas, 8.979 personel Satpol PP, serta 22.653 personel unsur pendukung lainnya. Kekuatan ini disiapkan untuk evakuasi, distribusi bantuan, layanan kesehatan, hingga pemulihan pascabencana.
Langkah masif ini mencerminkan perubahan pendekatan negara dalam menghadapi bencana: dari respons reaktif menuju kesiapsiagaan terencana. Namun, banjir Jakarta yang berulang setiap musim hujan juga kembali memunculkan pertanyaan klasik tentang akar persoalan tata kota, drainase, dan pengendalian alih fungsi lahan yang belum sepenuhnya tertangani.
BMKG sendiri telah mengeluarkan peringatan dini bahwa wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan sejumlah daerah lain masih berpotensi diguyur hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Ancaman banjir lanjutan masih terbuka, membuat operasi siaga bencana belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Polri mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan melintasi jalur tergenang, mengikuti arahan petugas lapangan, serta segera menghubungi layanan darurat 110 jika membutuhkan pertolongan. Imbauan ini penting mengingat banyak korban banjir sebelumnya justru terjadi akibat nekat menerobos genangan tinggi.
Di tengah kerja cepat aparat, warga berharap kehadiran negara tidak hanya terasa saat bencana datang, tetapi juga dalam kebijakan pencegahan jangka panjang. Banjir tahunan Jakarta kini bukan lagi sekadar persoalan cuaca, melainkan indikator seberapa serius negara membenahi infrastruktur dasar perkotaan.
Operasi gabungan hari ini memperlihatkan kesiapan Polri dan instansi terkait dalam merespons krisis. Namun ujian sesungguhnya adalah memastikan bencana serupa tidak terus berulang dengan pola yang sama. Di situlah ukuran keberhasilan negara sesungguhnya akan dinilai publik.
Baca Juga
Komentar