Harga Emas Naik Tajam, Sinyal Pesta Emas 2025 Saham ANTAM Semakin Nyata
Pena Insight
Jakarta, 11 Juli 2025 — Harga emas global kembali menunjukkan taringnya, menguat tajam setelah The Federal Reserve (The Fed) mengirimkan sinyal tegas mengenai rencana pemangkasan suku bunga acuan pada paruh kedua 2025. Pergerakan ini dinilai sebagai “kode keras” bahwa reli harga emas atau yang disebut pasar sebagai “pesta emas” masih jauh dari usai.
Pada perdagangan Kamis (10/7), logam mulia naik 0,3% ke posisi US$3.310,26 per troy ounce, usai sempat jatuh ke titik terendah sejak 30 Juni 2025. Kembalinya momentum bullish ini menghidupkan kembali optimisme investor, di tengah ketidakpastian global yang belum juga mereda.
Analis dari JP Morgan dan UBS menyatakan bahwa prospek harga emas akan tetap positif sepanjang semester II/2025. Sentimen dari pernyataan Gubernur The Fed yang menyebut “relaksasi kebijakan moneternya akan lebih akomodatif mulai kuartal IV/2025” menjadi pendorong utama. Pasar memperkirakan potensi pemangkasan sebesar 50 bps hingga akhir tahun.
Kondisi ini diperkuat dengan rilis data inflasi AS yang melandai ke 2,6% secara tahunan (YoY), lebih rendah dari ekspektasi 2,8%. Menurunnya inflasi menjadi alasan kuat bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter, dan emas sebagai aset lindung nilai kembali diburu oleh investor global.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian arah ekonomi Tiongkok memperkuat daya tarik emas sebagai safe haven. Bahkan, permintaan dari Asia terutama India dan Indonesia diprediksi akan meningkat signifikan menjelang musim festival dan akhir tahun.
Harga emas di pasar domestik pun merespons penguatan global. Emas batangan Antam pada Jumat (11/7) dibuka di level Rp1.356.000 per gram, naik Rp11.000 dibanding hari sebelumnya. Permintaan ritel tercatat melonjak 18% dalam sepekan terakhir, menurut data dari Logam Mulia.
Namun, sejumlah ekonom memperingatkan agar investor tetap waspada. Meski tren jangka menengah positif, potensi koreksi jangka pendek masih membayangi. Apabila The Fed berubah haluan akibat tekanan politik domestik menjelang pemilu AS, harga emas bisa kembali tertekan.
Kondisi ini membuat banyak manajer investasi melakukan rebalancing portofolio. Emas menjadi salah satu aset yang mulai dikoleksi kembali oleh dana pensiun dan institusi besar, menggantikan sebagian posisi mereka di obligasi jangka pendek AS yang mulai tidak menarik.
Dengan kombinasi pelonggaran moneter, gejolak geopolitik, dan ketidakpastian global, reli harga emas tahun ini berpeluang berlanjut hingga kuartal I/2026. Tapi seperti biasa, "pesta" ini hanya akan bertahan selama The Fed tidak mengubah nadanya lagi.
Baca Juga
Komentar