Harga Emas Dunia Tergelincir Usai Kesepakatan Dagang UE-AS, Dolar Menguat dan Tekan Daya Tarik Emas
Pena Insight
JAKARTA 29 Juli 2025 – Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan pada awal pekan ini, Senin (28/7), setelah tercapainya kesepakatan dagang antara Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS). Dalam laporan yang dikutip dari Reuters, Selasa (29/7), logam mulia mengalami tekanan sebagai imbas langsung dari penguatan dolar AS dan meningkatnya sentimen risiko di pasar keuangan global.
Spot emas turun sebesar 0,8% ke level US$3.310,45 per ons, menandai posisi terendah dalam hampir tiga pekan terakhir. Sementara itu, kontrak berjangka emas di bursa COMEX juga melemah 0,7% ke US$3.311,20. Perak spot turut terkoreksi 0,3% menjadi US$38,04, sedangkan platinum turun lebih dalam sebesar 1,1% ke level US$1.386,03.
Menariknya, palladium justru mencatatkan kenaikan sebesar 1,5% ke US$1.238,18, menandakan permintaan yang lebih spesifik terhadap logam industri ini di tengah ketidakpastian global. Penguatan indeks dolar AS turut menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga emas.
“Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor internasional, khususnya di negara-negara berkembang. Ditambah lagi, kesepakatan dagang memperkuat sentimen risk-on, mengurangi minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai,” kata Analis Marex, Edward Meir.
Kesepakatan dagang antara Uni Eropa dan AS akhir pekan lalu juga menghapus kekhawatiran atas potensi perang dagang global. Ancaman tarif sebesar 30% yang sempat membayangi berhasil diredam melalui perjanjian baru, yang dinilai jauh lebih lunak dan konstruktif.
Sebelumnya, AS juga telah menjalin kesepakatan serupa dengan Jepang, dan kini tengah melanjutkan negosiasi gencatan senjata tarif dengan China. Meski begitu, pejabat Perwakilan Dagang AS menyebut bahwa tidak ada terobosan besar yang diharapkan dalam putaran negosiasi kali ini, dengan fokus utama pada pelaksanaan komitmen yang telah disepakati.
Edward Meir menambahkan, pasar tetap berhati-hati terhadap keberlangsungan implementasi perjanjian dagang tersebut. “Harga emas tidak jatuh terlalu dalam karena masih ada keraguan apakah kesepakatan ini realistis dan mampu dijalankan secara efektif,” ujarnya.
Sementara itu, ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS juga menjadi penggerak pasar. Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%–4,50%. Namun, pelaku pasar memperkirakan potensi penurunan suku bunga bisa terjadi pada bulan September mendatang, yang bisa kembali menopang harga emas.
Dengan situasi global yang dinamis, harga emas kemungkinan besar akan tetap bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Investor disarankan untuk mencermati perkembangan negosiasi dagang serta arah kebijakan moneter The Fed sebagai dua variabel utama penentu arah harga logam mulia ke depan.
Baca Juga
Komentar