Harga Beras Masih Tinggi di Tengah Kenaikan Produksi 14%, Operasi Pasar dan Bansos Jadi Andalan Pemerintah
Pena Insight
Jakarta, 1 Agustus 2025 — Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian kembali menegaskan komitmennya menjaga stabilitas pangan nasional. Di tengah keluhan masyarakat terkait lonjakan harga beras, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa produksi beras nasional bulan ini mengalami peningkatan sebesar 14%.
Pernyataan ini disampaikan usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan yang turut dihadiri sejumlah menteri terkait sektor pangan. Menurut Amran, kenaikan ini merupakan sinyal positif dari program pemulihan pertanian pasca-krisis iklim dan El Nino yang sempat melanda berbagai daerah penghasil padi.
Meski produksi meningkat, stok beras nasional saat ini masih berada di angka 4,2 juta ton. Untuk menahan laju inflasi pangan dan menstabilkan harga, pemerintah mengumumkan langkah taktis: operasi pasar besar-besaran sebanyak 1,3 juta ton dan penyaluran bantuan sosial (bansos) beras sebanyak 365 ribu ton.
Langkah ini dipandang sebagai respons strategis atas keresahan publik yang terus meningkat, terutama di wilayah perkotaan, di mana harga beras medium tembus Rp14.000 per kilogram di pasar tradisional. Beberapa analis menilai bahwa keterlambatan distribusi dan fluktuasi produksi di bulan-bulan sebelumnya turut memperparah kondisi.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, memberikan keterangan berbeda yang justru memperjelas paradoks yang terjadi. Menurut Arief, lonjakan harga beras disebabkan oleh turunnya produksi gabah pada bulan Juni–Juli, yang hanya mencapai sekitar 2,5 juta ton. Sebagai pembanding, produksi pada bulan Maret sebelumnya mampu menembus angka lebih dari 5 juta ton.
"Memang terjadi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Meski kini mulai naik, tekanan di pasar sudah terbentuk sejak pertengahan tahun," ujar Arief saat ditemui di Gedung Bapanas, Jakarta. Ia menambahkan bahwa kerja sama lintas sektor sangat penting untuk memastikan distribusi beras dari gudang ke pasar dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.
Di sisi lain, Menteri Amran menegaskan bahwa program cetak sawah baru, pemanfaatan varietas unggul, serta modernisasi alat pertanian sedang digenjot secara nasional. “Kami pastikan tren kenaikan ini akan berlanjut. Tujuan kita bukan hanya swasembada, tetapi juga menstabilkan harga di tingkat konsumen,” tegasnya.
Namun, sejumlah ekonom mempertanyakan apakah operasi pasar dan bansos beras bisa menyentuh langsung konsumen rumah tangga yang paling terdampak. Pasalnya, distribusi bantuan sering kali tidak merata dan proses penyalurannya acap kali menemui kendala birokrasi di tingkat daerah.
Sementara itu, Presiden Prabowo disebut mendukung penuh langkah yang diambil Kementerian Pertanian dan Bapanas. Ia meminta jajaran menterinya untuk mempercepat realisasi program-program intervensi pasar, serta mengevaluasi jalur distribusi agar tidak terjadi penumpukan di gudang.
Dengan kenaikan produksi yang diharapkan konsisten hingga akhir tahun dan langkah intervensi yang masif, publik kini menunggu: apakah ini cukup untuk meredam lonjakan harga? Ataukah ini hanya solusi jangka pendek yang tidak menyentuh akar persoalan ketahanan pangan nasional
Baca Juga
Komentar