FSB Nikeuba KSBSI Dan Serikat Pekerja Pramudi Transportasi Jakarta (SPP TJ) Dorong Pekerja Kuasai Sosial Dialog dengan Teknologi AI
Jakarta — Federasi Serikat Buruh (FSB) Nikeuba KSBSI Jakarta menggelar kegiatan pelatihan dan dialog strategis yang berlangsung di Oria Hotel, Jakarta Pusat. Kegiatan ini dihadiri oleh 22 pengurus yang terdiri dari perwakilan serikat buruh dari berbagai sektor industri, aktivis ketenagakerjaan, serta sejumlah pengurus cabang.
Acara dibuka secara resmi oleh Bambang SY, Ketua DPC FSB Nikeuba KSBSI Jakarta. Dalam sambutannya, Bambang menegaskan pentingnya meningkatkan kapasitas buruh di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat akibat perkembangan teknologi dan dinamika hubungan industrial.
“Dialog sosial dan pemahaman teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis agar buruh tidak tertinggal,” tegas Bambang.
Fokus Pertama: Sosial Dialog sebagai Pilar Hubungan Industrial
Materi pertama membahas tentang Sosial Dialog, yang dipaparkan langsung oleh Bambang SY. Ia menjelaskan bahwa dialog sosial merupakan keterampilan fundamental dalam hubungan industrial, di mana kedua belah pihak pengusaha dan pekerja membangun kesepakatan bersama berdasarkan prinsip saling menghormati dan komunikasi yang terbuka.
Menurut Bambang, praktik sosial dialog yang sehat berkontribusi langsung terhadap stabilitas industri dan peningkatan produktivitas. “Poin penting dalam sosial dialog adalah bagaimana kedua belah pihak tidak hanya membuat kesepakatan, tetapi juga konsisten menjalankannya,” ujarnya.
Bambang juga menekankan bahwa etika dan keterampilan dalam berdialog sosial sangat menentukan keberhasilan negosiasi. Tanpa etika, perundingan dapat berujung kebuntuan; tanpa keterampilan, kesepakatan sulit tercapai secara konkret.
Para peserta aktif memberikan pertanyaan dan menceritakan pengalaman di perusahaan masing-masing. Beberapa peserta mengaku sering menemui hambatan komunikasi dengan pihak manajemen yang minim transparansi. Hal ini menjadi bahan diskusi menarik tentang perlunya pelatihan komunikasi dua arah di lingkungan kerja.
Fokus Kedua: Dasar Pengetahuan AI untuk Buruh
Materi kedua dibawakan oleh Adi Ardiansyah, yang membahas dasar-dasar kecerdasan buatan (AI) dan penerapannya dalam dunia ketenagakerjaan. Dalam paparannya, Adi menekankan bahwa AI saat ini sudah menjadi bagian dari proses bisnis dan manajemen sumber daya manusia di banyak sektor industri.
Adi menjelaskan, keterampilan dalam penggunaan AI dapat mempercepat proses administrasi buruh, mulai dari pengarsipan data, pemrosesan perizinan, hingga pengelolaan jadwal kerja. “AI mampu mempersingkat waktu dan meningkatkan akurasi, sehingga buruh bisa fokus pada aspek strategis,” jelasnya.

Namun, ia juga mengingatkan akan adanya tantangan dan risiko, seperti ketergantungan berlebihan pada sistem otomatis dan potensi berkurangnya interaksi manusia. Oleh karena itu, pemanfaatan AI harus dibarengi dengan kebijakan dan regulasi yang jelas agar tidak merugikan pekerja.
Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi saat sesi demo penggunaan AI sederhana untuk keperluan organisasi buruh, seperti otomatisasi surat menyurat dan pengumpulan data anggota melalui chatbot.
Menjawab Tantangan Transformasi Dunia Kerja
Perpaduan materi sosial dialog dan AI menjadi strategi yang relevan dalam menjawab tantangan dunia kerja saat ini. Hubungan industrial membutuhkan komunikasi yang kuat dan adaptasi teknologi yang cepat agar buruh tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek aktif dalam transformasi industri.
Ketua DPC FSB Nikeuba KSBSI Jakarta, Bambang SY, menilai pelatihan ini merupakan langkah awal untuk membangun budaya organisasi buruh yang progresif. “Kita tidak boleh hanya jadi penonton dalam era digital. Serikat buruh harus bisa menjadi pelaku dan penggerak perubahan,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi ajang untuk memperkuat jejaring antar serikat buruh lintas sektor. Beberapa peserta sepakat untuk menginisiasi program lanjutan, seperti pelatihan mendalam penggunaan AI untuk advokasi ketenagakerjaan dan pembentukan tim khusus dialog sosial.
Menurut pantauan, acara berlangsung interaktif dan produktif selama satu hari penuh. Peserta mendapatkan modul pelatihan digital serta akses ke grup diskusi daring untuk mendukung keberlanjutan program.
Langkah Lanjutan: Integrasi Sosial Dialog dan AI
Bambang SY menutup acara dengan seruan agar hasil pelatihan ini tidak berhenti hanya sebagai pengetahuan, tetapi diterapkan dalam praktik sehari-hari. “Ke depan, kita akan integrasikan AI dalam sistem organisasi buruh, termasuk untuk menyusun perjanjian kerja bersama dan pemantauan kebijakan ketenagakerjaan,” tutupnya.
Kegiatan seperti ini mencerminkan kesadaran baru di kalangan serikat buruh Indonesia bahwa penguasaan teknologi dan keterampilan dialog sosial harus berjalan beriringan. Hanya dengan cara itu, buruh dapat bertahan dan berkembang di tengah tekanan pasar kerja yang semakin kompetitif.
Baca Juga
Komentar