Ekonomi RI Tetap Tangguh, Stimulus Semester II Dipertebal Pemerintah
Pena Insight
Jakarta, 7 September 2025 – Pemerintah menegaskan kondisi perekonomian Indonesia hingga awal September 2025 tetap stabil dan resiliensinya terjaga. Sejumlah indikator makro menunjukkan performa yang solid, meski dunia masih dibayangi ketidakpastian global.
Secara makro, pasar saham sempat mengalami penurunan tipis sekitar 1,2 persen pada awal pekan, namun segera rebound dan kembali normal dalam dua hari. Hal ini memperlihatkan kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional tetap kuat.
Nilai tukar rupiah pun masih berada pada kisaran Rp16.400 per dolar AS, menandakan stabilitas kurs terjaga. Pemerintah menilai level ini cukup baik di tengah dinamika eksternal.
Inflasi juga terjaga di level 2,31 persen. Bahkan, pada bulan lalu sempat terjadi deflasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa harga barang-barang kebutuhan masyarakat masih terkendali.
Untuk memperkuat daya tahan ekonomi, pemerintah terus mempertebal program stimulus di semester II. Kebijakan fiskal diarahkan untuk langsung menyentuh masyarakat menengah dan bawah.
Sejumlah program tetap berjalan, seperti subsidi gaji untuk pekerja dengan penghasilan di bawah Rp5 juta, program padat karya, hingga insentif pajak PPh yang ditanggung pemerintah.
Selain itu, sektor perumahan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program renovasi rumah akan semakin digencarkan. Kebijakan ini diharapkan mampu menggerakkan sektor riil sekaligus menjaga konsumsi domestik.
Hingga kini, lebih dari 1,7 juta pekerja telah merasakan manfaat langsung dari stimulus yang diberikan pemerintah. Pemerintah berjanji akan memperluas jangkauan program tersebut agar semakin inklusif.
Presiden RI memberikan arahan agar bantuan sosial, stimulus, dan program perlindungan ekonomi terus diinformasikan secara masif, sehingga publik dapat merasakan dampak nyata dari kebijakan yang dijalankan.
Pemerintah juga menyiapkan langkah strategis dalam mendukung penciptaan lapangan kerja baru. Deregulasi industri di Jawa diproyeksikan mampu menyerap lebih dari 100 ribu tenaga kerja.
Selain itu, pekerja dengan status kontrak tetap mendapat perhatian, termasuk akses terhadap perlindungan ketenagakerjaan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menekan risiko pemutusan hubungan kerja.
Dari sisi fiskal, pemerintah memastikan posisinya terkendali. Cost sharing dan penyesuaian belanja terus diatur agar tetap mampu mendukung program prioritas dan pembangunan jangka menengah.
Dengan tingkat suku bunga yang relatif rendah, pemerintah berharap kredit ke sektor produktif semakin bergairah. Dukungan ini penting agar dunia usaha bisa mendorong pertumbuhan lebih cepat.
Resiliensi ekonomi nasional dinilai menjadi modal utama Indonesia menghadapi ketidakpastian global. Pemerintah optimistis, dengan stimulus berlapis dan stabilitas makro yang terjaga, perekonomian RI akan tumbuh lebih inklusif dan berkelanjutan.
Baca Juga
Komentar