Edwin Soeryadjaya & Lo Kheng Hong Borong Saham di Pengujung Semester I
Pena Insight
Jakarta, 4 Juli 2025 – Dua investor legendaris Tanah Air, Edwin Soeryadjaya dan Lo Kheng Hong, terpantau menggelontorkan dana segar untuk memborong sejumlah emiten pada sesi perdagangan terakhir Juni 2025, tepat ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di 6.927,679—terkoreksi 2,15 % sejak awal tahun.
Langkah berani itu terekam dalam laporan Bisnis Indonesia Premium yang menyebut aksi beli masif dilakukan justru di tengah sentimen pasar yang lesu, menegaskan reputasi keduanya sebagai “pemburu nilai” yang kerap berkontra dengan arus mayoritas.
Meski rincian emiten tidak seluruhnya dipublikasikan, sumber yang sama mengindikasikan fokus keduanya pada saham siklikal berfundamental kuat namun tengah terdiskon—mulai dari perbankan lapis menengah hingga komoditas terkait transisi energi. Strategi “average down” ini kerap dipakai untuk menekan harga pokok per lembar, sembari mengunci potensi rebound di paruh kedua tahun.
Edwin bukan pemain baru dalam skema akumulasi agresif. Awal 2024 ia menambah 3,68 juta lembar Saratoga Investama (SRTG) demi mempertahankan porsi kepemilikan strategis, sebuah manuver yang kala itu menelan dana ±Rp5,6 miliar.
Sosok yang terkenal lewat value investing ini pernah mencuri perhatian kala memborong PGN (PGAS) menjelang rencana dividen tebal pada 2024, serta menaikkan porsi di Bank Danamon (BDMN) awal 2025. Riwayat tersebut memperkuat narasi bahwa aksi terbaru bukan spekulasi sesaat, melainkan kelanjutan strategi jangka panjang.
Koreksi IHSG akibat suku bunga tinggi dan aliran dana asing yang cenderung wait‑and‑see menciptakan valuasi diskon di banyak sektor. Bagi investor besar, momentum ini ibarat “obral tengah tahun” sebelum potensi pivot kebijakan moneter BI pada Q4.
Sejumlah analis menilai langkah Edwin‑Lo dapat memicu efek psikologis follow‑the‑leader. Namun mereka mengingatkan bahwa likuiditas terbatas di saham berkapitalisasi menengah bisa memperlebar volatilitas, terutama jika investor ritel ikut‑ikutan tanpa riset mendalam.
Kepemilikan jumbo figur publik dapat menimbulkan herding effect yang mengaburkan fundamental. Dalam kasus terburuk, retracement jangka pendek justru menghukum investor yang masuk di harga pucuk pasca‑pembelian publik figur. Regulasi transparansi transaksi pihak terafiliasi menjadi krusial untuk mencegah distorsi informasi.
Jika IHSG gagal menembus kembali level psikologis 7.000 dalam beberapa pekan ke depan, aksi akumulasi edisi “big boys” bisa terbukti prematur. Sebaliknya, bila sentimen global membaik, mereka berpotensi menikmati first‑mover advantage dengan margin keamanan yang lebar.
Gerak dua maestro pasar ini menegaskan kembali prinsip dasar value investing: “Beli saat orang lain takut.” Namun, keberanian harus dibarengi due diligence. Ritel disarankan memastikan profil risiko, mengukur horizon investasi, dan tidak sekadar terpancing nama besar.
Baca Juga
Komentar