Deretan Pemegang Saham Minoritas EMAS: Ada Bos PSAB hingga Menteri Sakti Wahyu Trenggono
Jakarta - PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) resmi mengungkap daftar pemegang sahamnya menjelang debut di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sebagian besar saham EMAS masih dikendalikan oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan porsi 56,46%. Sisanya dimiliki oleh investor strategis seperti Winato Kartono, Garibaldi Thohir, dan beberapa nama individu lainnya.
Pengumuman daftar pemegang saham ini tercantum dalam prospektus IPO yang diterbitkan awal September 2025, sebelum penawaran umum perdana pada 17–19 September 2025.
Prospektus tersebut dipublikasikan di Jakarta sebagai bagian dari proses pencatatan saham perdana EMAS di BEI.
Daftar pemegang saham menjadi sorotan karena melibatkan sejumlah tokoh penting di industri pertambangan, keuangan, hingga pejabat negara, yang memberi sinyal kepercayaan terhadap prospek bisnis EMAS.
Berdasarkan prospektus, MDKA memegang 56,46% saham, Winato Kartono 8,36%, Garibaldi Thohir 5,59%, dan masyarakat umum 10%. Sisanya terbagi di antara pemegang saham institusi dan individu dengan porsi di bawah 5%.
EMAS sudah mendapat dukungan konglomerat sejak sebelum IPO, termasuk keluarga Soerjadjaja melalui Saratoga, Winato Kartono, dan Boy Thohir.
Salah satu nama yang menonjol adalah Hardi Wijaya Liong, Presiden Komisaris PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) dan Wakil Direktur Utama TBIG, yang memiliki 3,58% saham EMAS.

Nama Edi Permadi, Presiden Direktur PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), juga muncul dengan kepemilikan 1,21%, memperkuat keterkaitan EMAS dengan ekosistem pertambangan nasional.
Menariknya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono tercatat memiliki 0,48% saham EMAS. Trenggono pernah menjadi Komisaris MDKA pada 2018, sebelum menjabat di kabinet.
Sebanyak 10% saham EMAS akan dimiliki publik, sementara 8,95% disimpan sebagai saham treasuri, memberi fleksibilitas untuk aksi korporasi di masa depan.
Hingga akhir kuartal I 2025, EMAS mencatat total aset US$543,3 juta atau sekitar Rp8,9 triliun dengan ekuitas US$263,3 juta, menandakan posisi keuangan cukup solid sebelum IPO.
Dalam bookbuilding yang berlangsung 8–10 September 2025, harga saham EMAS ditawarkan pada kisaran Rp1.800–Rp3.020 per lembar. Perusahaan diproyeksikan meraup dana hingga Rp4,9 triliun.
Manajemen EMAS menyatakan dana IPO akan digunakan untuk ekspansi tambang, pelunasan sebagian utang, dan modal kerja untuk proyek-proyek baru.
Dengan keterlibatan investor besar dan pejabat publik, EMAS diharapkan menjadi salah satu emiten tambang yang diminati investor, sekaligus memperkuat sektor pertambangan emas di Indonesia.
Baca Juga
Komentar