Danantara Masuk PGE, Transisi Energi Era Prabowo Dimulai dari Perut Bumi
Pena Insight
Jakarta, 01 Juni 2025 - Langkah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk masuk ke proyek strategis milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGE) menandai fase baru dalam peta jalan transisi energi nasional. Di tengah tekanan global untuk beralih dari energi fosil ke energi bersih, sinergi BUMN energi dan sovereign wealth fund ini dinilai strategis dalam mencapai visi Presiden Prabowo Subianto menuju ketahanan energi berbasis sumber daya domestik.
PGE merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero) yang memiliki peran sentral dalam pengembangan panas bumi di Indonesia. Dengan kapasitas terpasang sebesar lebih dari 600 MW dan potensi pengembangan hingga 1 GW lebih, kehadiran investor strategis seperti Danantara akan menjadi katalis dalam mempercepat eksplorasi dan ekspansi proyek geothermal nasional.
Masuknya Danantara ke proyek PGE bukan sekadar injeksi modal. Badan ini memiliki mandat jangka panjang sebagai state capital aggregator yang tak hanya mendanai, tetapi juga memastikan kelayakan investasi berdasarkan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance). Ini sejalan dengan tuntutan global akan energi bersih dan komitmen pemerintah terhadap emisi nol bersih (net zero emissions).
Menurut sumber dari Kementerian ESDM, keterlibatan Danantara di PGE akan difokuskan pada proyek-proyek skala besar yang terkendala pembiayaan, terutama wilayah kerja panas bumi yang berada di wilayah timur Indonesia. “Ini cara negara menambal celah pasar dan mempercepat hilirisasi energi terbarukan,” ujar pejabat tersebut.
Sejauh ini, PGE telah memiliki portofolio pengembangan di sejumlah lapangan utama seperti Lahendong, Ulubelu, Kamojang, dan Karaha. Namun, ekspansi ke wilayah baru memerlukan model investasi baru yang tidak hanya andal secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara fiskal. Danantara hadir sebagai jawaban atas kebutuhan itu.
Presiden Prabowo sendiri dalam pidato kebijakan energinya menegaskan bahwa Indonesia tidak akan menjadi penonton dalam transisi energi global. “Energi kita harus berasal dari tanah kita, dan dimanfaatkan untuk kemandirian bangsa kita,” ujarnya saat membuka Sidang Kabinet Energi Transisi di Istana Negara, Juni lalu.
Proyek panas bumi menjadi elemen penting karena Indonesia berada di atas cincin api pasifik (ring of fire), wilayah dengan cadangan panas bumi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Namun ironi selama ini, pemanfaatannya masih jauh dari optimal akibat mahalnya biaya eksplorasi dan minimnya insentif fiskal.
Masuknya Danantara dengan kekuatan pengelolaan dana jangka panjang, mirip dengan model sovereign fund seperti Temasek atau Khazanah, memberi harapan baru. Bila sukses, model ini bisa direplikasi ke sektor energi hijau lainnya seperti PLTA, bioenergi, hingga hidrogen hijau yang mulai dikembangkan.
Transisi energi yang dicanangkan pemerintahan baru kini bukan lagi wacana. Ia sudah berwujud dalam strategi investasi terukur dan langkah-langkah konkret yang menempatkan BUMN sebagai aktor utama, dengan dukungan keuangan dari lembaga negara yang dikelola profesional dan akuntabel.
Baca Juga
Komentar