Chairal Tanjung mendapat jatah 2,36 juta saham GIAA langsung Terbang: Suntikan Danantara Jadi Penopang
Jakarta — Ironis. Maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) kembali membukukan kerugian jumbo di semester I/2025. Namun, di lantai bursa, sahamnya justru melejit tajam. Pertanyaan besar pun muncul: apakah fundamental bisa menahan euforia pasar?
Berdasarkan laporan keuangan, Garuda mencatat rugi bersih sebesar US$143,7 juta atau sekitar Rp2,36 triliun (kurs JISDOR Rp16.233 per dolar AS). Kerugian ini membengkak 41,37% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp1,64 triliun.
Padahal, pendapatan usaha Garuda justru menurun 4,47% YoY menjadi US$1,54 miliar, dari sebelumnya US$1,62 miliar. Penurunan beban usaha sebesar 1,82% pun tak mampu menyelamatkan neraca merah perusahaan.
Yang lebih mengkhawatirkan, Garuda masih terjerat ekuitas negatif. Aset perseroan tercatat US$6,51 miliar, sementara liabilitas mencapai US$8,01 miliar. Artinya, defisit ekuitas Garuda menembus US$1,49 miliar.
Direktur Niaga Garuda Indonesia, Reza Aulia Hakim, mengakui persoalan ini serius. Ia menegaskan bahwa manajemen tengah fokus pada strategi “tiga pilar”: evaluasi finansial-komersial, akselerasi operasional, dan ekspansi jaringan. “Target kami bukan sekadar membalikkan rugi jadi untung, tapi kokoh dan berkelanjutan,” tegasnya.
Namun, pasar seolah tak peduli dengan kerugian. Harga saham GIAA justru naik 10% ke Rp99 per lembar pada sesi pertama perdagangan hari ini. Dalam sebulan terakhir, saham GIAA melejit 39,44%. Sepanjang 2025, lonjakannya mencapai 80%.
Kunci euforia itu ada pada suntikan dana sovereign wealth fund Tanah Air, Danantara. Garuda telah mengajukan proposal suntikan modal senilai US$405 juta atau setara Rp6,65 triliun. Dari jumlah itu, sebagian besar dialokasikan melalui pinjaman pemegang saham (shareholder loan) ke Citilink sebesar Rp4,83 triliun, sehingga Garuda induk hanya menerima Rp1,82 triliun.
Analis Sinarmas Sekuritas, Isfhan Helmy, menilai suntikan Danantara adalah “oksigen” untuk Garuda. Ia memproyeksikan Garuda bisa kembali mencetak laba bersih pada 2029, dengan target harga saham jangka panjang di level Rp160 per lembar.
Namun, analis Indri Liftiany Travelin Yunus dari Indo Premier Sekuritas mengingatkan, euforia saham Garuda lebih banyak dipengaruhi sentimen politik dan pendanaan, bukan kekuatan fundamental. “Tanpa Danantara, sulit membayangkan harga saham GIAA naik sedemikian tinggi,” ujarnya.
Di sisi lain, ada ironi menarik: Chairal Tanjung, adik Chairul Tanjung, mendapat jatah 2,36 juta saham GIAA sebagai tantiem tahun buku 2023. Kini, kepemilikannya bertambah jadi 6,42 juta lembar. Persentasenya kecil, hanya 0,007%, tapi cukup untuk menandai keterkaitan CT Corp dalam pusaran Garuda.
Relasi ini menuai kritik. Sebagian kalangan menilai, keputusan strategis Garuda rawan dipengaruhi kepentingan bisnis dan politik, bukan semata pertimbangan korporasi.
Beban Garuda masih berat. Perseroan harus menjaga arus kas, menekan beban utang, dan memulihkan kepercayaan publik. Suntikan dana hanyalah penunda masalah, bukan solusi struktural.
Pasar kini berada di persimpangan: ikut euforia suntikan modal atau bersiap menghadapi risiko koreksi bila ekspektasi tak sejalan dengan realitas.
Kenaikan saham GIAA memang spektakuler, tapi tanpa transformasi mendalam, ini bisa menjadi gelembung yang sewaktu-waktu pecah.
Optimisme ada, tapi fakta keuangan berbicara lain: Garuda masih merugi, ekuitas masih negatif, dan beban utang masih menggunung.
Investor, publik, hingga pemerintah wajib awas: apakah Garuda benar-benar siap terbang tinggi, atau hanya sekadar “terbang semu” berkat injeksi modal negara.
Baca Juga
Komentar