Bukti Nyata Polri Dekat dengan Rakyat 3.795 Komunitas Meriahkan Defile HUT Bhayangkara ke-79
Pena Insight
Jakarta, 3 Juli 2025 — Peringatan Hari Bhayangkara ke-79 yang digelar di Jakarta menjadi bukti konkret kedekatan Polri dengan masyarakat. Tak sekadar upacara seremonial, acara tahun ini melibatkan ribuan warga dari berbagai latar belakang yang tergabung dalam defile kebangsaan.
Perayaan mengusung tema “Polri Untuk Masyarakat” bukan sekadar jargon. Sebanyak 3.795 komunitas dari berbagai sektor hadir dan berbaris dalam defile sebagai mitra sosial Polri. Mereka terbagi dalam 44 kompi utama dan 12 kompi khusus yang terdiri dari petani dan petugas dapur makan bergizi (MBG).

Defile diisi kelompok satpam, Satpol PP, Paskibraka, Banser, hingga kelompok buruh dan petani. Mereka tampil dalam kostum khas masing-masing yang mencerminkan identitas serta kontribusi mereka terhadap keamanan dan ketahanan nasional.
Kehadiran kelompok masyarakat ini menjadi simbol bahwa keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab kolektif. Polri tampil bukan sebagai penguasa represif, melainkan sebagai bagian dari masyarakat sipil yang aktif.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan humanis Polri. Ia menegaskan bahwa institusi kepolisian harus menjadi pengayom, khususnya bagi mereka yang berada di lapisan terbawah masyarakat.
“Polisi Indonesia harus berada di tengah rakyat, merasakan penderitaan rakyat, mendengar jeritan hati rakyat,” ujar Presiden Prabowo.
Defile bukan hanya parade visual, tetapi bentuk simbolik dari kemitraan negara dan warga. Ketika petani membawa jagung dan buruh mengibarkan bendera, publik melihat narasi konkret soal ketahanan pangan dan kerja kolektif.
Kehadiran kelompok buruh, termasuk dari KSPI pimpinan Said Iqbal, serta ormas Banser menandai bahwa Polri membuka ruang seluas-luasnya bagi keragaman ideologi dan komunitas. Mereka tampil harmonis di barisan yang sama.

Namun euforia ini perlu diikuti dengan konsistensi kelembagaan. Tantangan bagi Polri ke depan adalah menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik, dengan tetap hadir di tengah rakyat—bukan hanya saat peringatan tahunan.
Prabowo menekankan pentingnya Polri yang bersih, unggul, dan berpihak pada yang lemah. Penegasan ini menjadi pengingat bagi institusi kepolisian bahwa legitimasi sosial dibangun lewat keberpihakan terhadap keadilan sosial, bukan sekadar performa birokratis.
Baca Juga
Komentar