BEKS: Drama Lama, Aktor Lama, Jebakan Baru — Saat Bursa Jadi Panggung Gorengan
Jakarta — Saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) kembali jadi tontonan panas di lantai bursa. Dari harga Rp27 merangkak ke Rp34, lalu terjun lagi ke Rp28, pergerakan tipis ini tiba-tiba dipoles dengan narasi bombastis seolah “kebangkitan”. Padahal publik pasar modal tahu: ini bukan tanda sehat, tapi bau gorengan lama yang kembali dihangatkan.
Pertanyaannya: ini sinyal kebangkitan nyata atau sekadar drama basi yang diputar ulang dengan aktor lama? Bagi investor ritel yang sudah terlalu sering nyangkut di saham ini, jawabannya jelas — permainan spekulan yang dikemas dengan cerita segar.
Bank Banten: Rekor Buruk Tanpa Akhir
Bank Banten bukan nama asing dalam daftar saham bermasalah. Sejak lama, bank ini jadi contoh klasik bagaimana suntikan modal jumbo, rights issue berulang, dan inbreng aset hanya jadi kosmetik tanpa perubahan fundamental. Reputasi babak belur, tata kelola amburadul, transparansi minim, dan kinerja keuangan tak pernah benar-benar membaik.
Lebih parah lagi, publik belum lupa skandal memalukan saat karyawan Bank Banten membobol dana nasabah hingga Rp6,1 miliar. Jika uang nasabah bisa jebol dari dalam, bagaimana mungkin publik mempercayakan masa depan keuangan mereka pada institusi seperti ini.
Regulator Menonton, Spekulan Berpesta
Dalam drama ini, OJK dan BEI berperan bukan sebagai pengawas, tapi seperti penonton bisu di tribun. Padahal mandat mereka jelas: melindungi investor dan menjaga integritas pasar. Namun pada kasus BEKS, mereka seolah membentangkan karpet merah untuk saham busuk.
Delisting seharusnya sudah lama jadi opsi. Saham yang berkali-kali gagal memperbaiki diri, terus menjerat investor ritel, dan tak menunjukkan progres nyata tidak pantas tetap bercokol di bursa. Membiarkan BEKS tetap melantai sama saja dengan menggadaikan kredibilitas pasar modal Indonesia.
Narasi “Kebangkitan” = Jebakan Lama dengan Kemasan Baru
Setiap kali harga BEKS bergerak sedikit, muncul narasi “comeback” dari berbagai sudut. Tapi publik sudah hafal pola ini: spekulan membentuk sentimen, menggiring opini, mengerek harga sebentar, lalu melepas saat ritel mulai masuk. Siklusnya selalu sama: yang pesta spekulan, yang nyangkut ritel.
Investor publik sudah kenyang dengan janji rights issue yang tak pernah jadi solusi. “Berkali-kali rights issue sudah jadi bukti kegagalan. Modal disuntik, bank tetap sakit, investor ritel terus dikorbankan,” tegas seorang pengamat pasar modal. Kalimat ini merangkum frustrasi banyak pihak terhadap bank daerah yang tak kunjung sembuh tapi terus diberi panggung.
Pemprov Banten: Pengendali yang Gagal Total
Sebagai pemegang saham pengendali, Pemprov Banten seharusnya jadi motor pembenahan. Nyatanya, yang terjadi justru praktik tambal sulam melalui inbreng aset. Gedung ditukar dengan saham, tapi masalah struktural dibiarkan mengendap. Reformasi manajemen tak pernah terjadi. Ini bukan strategi penyelamatan, ini sekadar menunda kehancuran dengan ilusi.
BEKS Adalah Cermin Buram Pasar Modal Indonesia
Kasus BEKS lebih dari sekadar saham gorengan. Ini potret buram lemahnya pengawasan, minimnya sanksi, dan betapa rentannya investor kecil menjadi korban permainan besar. Bursa yang seharusnya jadi arena investasi sehat justru berubah menjadi panggung drama spekulan.
Lonjakan harga kecil yang dipoles sebagai “tanda kebangkitan” hanyalah jebakan lama dalam kemasan baru. Selama regulator membiarkan, spekulan berpesta, dan pengendali menutup mata, investor ritel akan terus jadi korban abadi di permainan BEKS.
Baca Juga
Komentar