Beks Dikendalikan Bank Jatim dan Kantongi RKUD, Saham Bank Banten Tetap Terpuruk, Ada Apa?
BANTEN – Status PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) yang kini berada di bawah kendali PT Bank Jatim Tbk (BJTM) seharusnya menjadi katalis positif. Ditambah lagi dengan dukungan pemerintah daerah melalui pemindahan Rekening Kas Umum Daerah (RKUD), ekspektasi publik terhadap pemulihan kinerja bank daerah ini sempat menguat.
Namun kenyataannya, harga saham Bank Banten dengan kode BEKS masih belum bergerak signifikan. Sahamnya tetap tertahan di level 30 perak dan belum menunjukkan respons positif atas berbagai sentimen fundamental yang muncul.
Terbaru, Pemerintah Kabupaten Pandeglang resmi memindahkan pengelolaan RKUD ke Bank Banten. Kebijakan ini efektif berlaku mulai 1 Januari 2026 dan dinilai sebagai bentuk dukungan konkret pemerintah daerah terhadap bank milik masyarakat Banten tersebut.
Pemindahan RKUD Kabupaten Pandeglang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama antara Pemkab Pandeglang dan manajemen Bank Banten. Langkah ini diharapkan memperkuat likuiditas serta meningkatkan aktivitas transaksi di bank daerah tersebut.
Menariknya, Bank Banten memberikan nomor rekening “cantik” untuk RKUD Kabupaten Pandeglang. Nomor tersebut mudah diingat karena didominasi angka tujuh, yang diyakini dapat memudahkan administrasi dan pengelolaan keuangan daerah.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Pandeglang, Yahya Gunawan Kasbin, memastikan seluruh proses administrasi telah rampung dan RKUD resmi berpindah ke Bank Banten.
“Ditandai penandatanganan MoU oleh Ibu Bupati dan Direktur Utama Bank Banten, lalu ditindaklanjuti dengan PKS. Per 1 Januari 2026 sudah efektif,” ujar Yahya, Minggu (28/12/2025).
Ia menegaskan tidak ada kendala berarti dalam proses tersebut, meski tim masih bekerja maraton untuk memastikan transisi berjalan lancar. Salah satu kerja sama lanjutan adalah layanan pembayaran pajak dan retribusi daerah melalui Bank Banten.
Dengan dukungan RKUD dan transaksi pajak daerah, secara logika bisnis, kinerja Bank Banten seharusnya mendapatkan dorongan signifikan. Namun kondisi itu belum tercermin di pergerakan harga sahamnya.
Di pasar modal, BEKS masih sering disebut sebagai saham Busuk Gorengan. Volume transaksi kecil dan merigikan Investor, belum diikuti tren kenaikan harga yang berkelanjutan.
Situasi ini memunculkan berbagai spekulasi di kalangan investor ritel. Sebagian mempertanyakan apakah pasar masih meragukan perbaikan fundamental Bank Banten meski sudah ada Bank Jatim sebagai pemegang saham pengendali.
Faktor historis turut menjadi sorotan. Bank Banten memiliki rekam jejak panjang persoalan tata kelola di masa lalu yang meninggalkan kehati-hatian berlebih di kalangan investor.
Selain itu, muncul pula perbandingan dengan kasus di bank daerah lain. Publik menyinggung kasus dugaan korupsi di Bank BJB yang tengah disorot penegak hukum, khususnya terkait belanja iklan, sebagai contoh bagaimana isu tata kelola dapat menekan harga saham.
Meski hingga kini tidak ada pernyataan resmi yang menyebut adanya indikasi korupsi serupa di Bank Banten, pasar cenderung sensitif terhadap isu-isu tata kelola dan transparansi.
Analis menilai, sentimen positif seperti pengendalian oleh Bank Jatim dan masuknya RKUD perlu diikuti dengan perbaikan kinerja keuangan yang terukur dan konsisten agar kepercayaan investor pulih.
Selain itu, komunikasi publik dan keterbukaan informasi juga dinilai krusial. Investor membutuhkan kejelasan arah bisnis, strategi jangka panjang, serta target kinerja pasca restrukturisasi.
Tanpa perbaikan yang nyata dan berkelanjutan, dukungan pemerintah daerah berpotensi hanya menjadi sentimen jangka pendek di pasar.
Ke depan, efektivitas pemindahan RKUD dan kerja sama layanan pajak daerah akan menjadi ujian awal bagi Bank Banten dalam membuktikan bahwa dukungan tersebut mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan bisnis riil.
Bagi pasar modal, hasil nyata itulah yang akan menentukan apakah saham Bank Banten mampu keluar dari tekanan atau tetap terjebak di level rendah atau memang Sekuritas Pengendali saham Bank Banten yang bermasalah.
Baca Juga
Komentar