1.784 Pabrik Baru Mulai Beroperasi, Serap 80 Ribu Tenaga Kerja di Kuartal II-2025
Pena Insight
Jakarta, 30 Agustus 2025 – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat sebanyak 1.784 pabrik baru resmi beroperasi pada kuartal II-2025 dengan nilai investasi mencapai Rp 116,51 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 80.161 tenaga kerja berhasil terserap, memberi angin segar bagi sektor manufaktur nasional.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menjelaskan bahwa pabrik-pabrik tersebut sebenarnya telah dibangun sejak 2023 dan 2024, namun baru memulai produksi pada triwulan II tahun ini. Dari total investasi, sekitar Rp 89 triliun berasal dari investasi tanpa tanah, sementara sisanya terkait pembangunan fasilitas produksi.
Menurut Febri, jumlah tenaga kerja yang terserap jauh lebih besar dibandingkan jumlah korban pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri. Hal ini menjadi indikator positif bahwa sektor manufaktur Indonesia masih mampu menjaga daya serap tenaga kerja di tengah berbagai tantangan global.
“Penyerapan tenaga kerja di manufaktur itu lebih banyak dibandingkan PHK yang terjadi di semua sektor, termasuk manufaktur. Artinya industri masih tumbuh,” ujar Febri dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Jumat (29/8/2025).
Dari data Kemenperin, industri makanan menjadi penyumbang terbesar dengan 595 perusahaan yang mulai berproduksi. Total investasi di subsektor ini mencapai Rp 7,7 triliun dan menyerap 8.465 tenaga kerja. Sementara itu, industri tembakau menyerap hingga 16.326 tenaga kerja dengan nilai investasi Rp 528 miliar dari 115 perusahaan.
Tak hanya itu, Kemenperin juga melaporkan ada 1.690 pabrik lain yang saat ini masih dalam tahap pembangunan fasilitas produksi. Nilai investasi dari proyek tersebut diperkirakan menembus Rp 930 triliun, dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja mencapai 332.298 orang.
Febri merinci, pada semester I-2025 saja terdapat 246 perusahaan industri makanan yang sedang membangun pabrik baru dengan nilai investasi sekitar Rp 50 triliun. Jika rampung, diperkirakan akan menyerap 16.206 tenaga kerja tambahan.
Selain itu, subsektor tekstil dan produk tekstil (TPT) juga menunjukkan tren positif. Sebanyak 77 perusahaan tekstil tengah membangun fasilitas produksi dengan nilai investasi Rp 5 triliun. Dari situ, diperkirakan akan menyerap sekitar 14.000 tenaga kerja baru.
Industri alas kaki dan produk kulit juga tercatat sebagai salah satu sektor padat modal dan padat karya. Kontribusinya terhadap serapan tenaga kerja diprediksi akan meningkat signifikan seiring berjalannya pembangunan fasilitas industri tersebut.
Dengan pertumbuhan investasi yang masif, Kemenperin optimistis industri manufaktur Indonesia tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Peningkatan jumlah pabrik dan serapan tenaga kerja diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi serta mendukung target Indonesia sebagai basis industri manufaktur terkuat di Asia Tenggara.
Baca Juga
Komentar